STRUKTUR KOMPOSIT
STRUKTUR KOMPOSIT
Struktur komposit
merupakan suatu struktur yang terdiri dari dua elemen struktur dengan bahan
material yang berbeda dan bekerja bersama-sama membentuk suatu kesatuan, dimana
masing-masing bahan/ material tersebut mempunyai kekuatan sendiri-sendiri.
Perpaduan antara material beton dan baja tulangan akan membentuk material
komposit yang ekonomis serta efisien lewat hasil kerjasama yang tercipta
melalui kekuatan lekat pada interface kedua material tersebut. Pemanasan dengan
temperatur yang bervariasi akan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku
material komposit tersebut, khususnya menyangkut kinerja kekuatan lekatnya
akibat perubahan mikrostruktur pada material beton dan material baja tulangan.
Dari hasil uji tekan uniaksial diperoleh nilai kuat tekan beton umur tujuh hari
yang bila dipanaskan dengan temperatur 200 oC, 500 oC dan
800 oC akan mengalami penurunan yang bervariasi antara enam hingga
100%, sedangkan penurunan kuat tekan beton pada umur 28 hari berkisar antara
sepuluh hingga 90%. Pada tingkat pemanasan dengan temperatur 200 oC,
penurunan kekuatan lekat antara baja tulangan dan beton umur 28 hari adalah
sekitar 30%, serta untuk pemanasan dengan temperatur yang lebih besar atau sama
dengan 500 oC akan terjadi penurunan sebesar 40% hingga 77%.
Penurunan kuat tekan beton dan penurunan kekuatan lekat beton dengan baja
tulangan akibat pemanasan dipresentasikan oleh kurva tidak linier serta
menunjukkan adanya korelasi positif antara kedua karakteristik tersebut.
Contoh
struktur komposit :
·
baja dengan beton
·
kayu dengan beton
·
beton biasa dengan beton prategang
Struktur
komposit dibentuk olehelemen baja dan beton, dengan memanfaatkan perilaku
interaktif yang terjadi antara baja dengan beton, serta memobilisasikan
kemampuan optimal dari masing-masing bahan dalam memikul beban.
BALOK KOMPOSIT

gambar 1
Balok
baja yang menumpu pelat beton bertulang
Pada gambar 1 diatas merupakan balok komposit dengan peghubung geser. Pada
keadaan ini, penyaluran gaya geser melalui mekanisme interlocking antara pelat
beton dan peghubung geser.

gambar 2
Balok
baja yang diselubungi beton
Pada gambar 2
merupakan balok baja yang deselubungi beton, dengan penyaluran gaya geser
mealului :
·
friksi dan lekatan disepanjang sisi atas
profil baja dan pelat beton
·
tahanan geser pada bidang antara pelat
beton dan bagian beton yang menyelubungi profil baja.
Pada umumnya, struktur komposit yang digunakan pada konstruksi gedung dan
jembatan adalah berupa balok komposit yang merupakan gabungan antara balok baja
dengan lantai yang dicor ditempat (cast in situ) atau pra cetak (precast).
Antara baja dan beton pada balok komposit diikat dengan suatu penghubung (shear
connector), sehingga beton dan baja dapat bekerja bersama-sama membentuk suatu
kesatuan seperti balok T.
Dari hasil penelitian bisa diambil kesimpulan, perilaku balok terhadap
beban jangka pendek.
- Kapasitas lentur batas
Dari hasil percobaan dan teori memberi hasil yang
sangat memadai sehingga teori lentur yang sudah ada nampaknya cukup akurat
dipakai memprediksi kekuatan yang ada.
- Kapasitas lentur saat retak
Untuk memprediksi kemampuan retak seyogyanya
memasukkan faktor susut balok-balok. Keadaan initial tegangan tarik beton
diperhitungkan secara teliti apabila faktor retak menjadi pertimbangan.
- Lebar balok
Penggunaan beton mutu tinggi pada bagian tarik jelas
sekali mengurangi lebar retak yang terjadi, sehingga untuk struktur di daerah
maritim sangat dibantu dari segi umur sebagaimana yang diharapkan.
KOLOM KOMPOSIT

gambar 3
kolom
baja yang diisi beton bertulang
Pada kolom
komposit, baja berfungsi sebagi casing,lalu dilakukan penulangan, dan setelah
itu baru dilakukan pengecoran beton.

gambar
5.
Kolom
baja yang diselubungi beton
PELAT KOMPOSIT

gambar 6
Pelat
Dek Baja yang menahan pelat beton bertulang
Pada struktur pelat komposit, akan terdapat pemindahan gaya geser (shear transfer) yang disebabkan oleh bond dan friction pada permukaan baja dan pelat lantai beton (concrete slab). Gaya geser tersebut
tidak dapat dipikul tersendiri (oleh gelagar baja saja atau oleh pelat beton
saja), karena akan mengakibatkan lepasnya pelat lantai dari balok. Oleh karena
itu, dipasang suatu penghubung yang disebuat dengan penghubung geser (shear
connector).

gambar7
Non composite beam
Composite beam
Contoh perhitungan kuat lentur
rencana balok komposit

a. balok interior :
bE < L/4
bE < b0 (for
equal beam spacing)
b. balok exterior :
bE < L/8 + btepi
bE < b0 /2 +
btepi
dengan :
L : jarak bentang balok
bo : jarak antar balok
btepi :
jarak jarak
dari balok tepi ke sisi ujung pelat yang ditumpu balok tepi
![]() |
![]() |
||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
|
|||||||||||||
BALOK KOMPOSIT
1.1 PENDAHULUAN
(Introduction)
Struktur
komposit merupakan suatu struktur yang terdiri dari dua elemen struktur dengan
bahan/material yang berbeda dan bekerja bersama-sama membentuk suatu kesatuan,
dimana masing-masing bahan/material ter-sebut mempunyai kekuatan
sendiri-sendiri.
Contoh :
– baja dengan beton
– kayu dengan beton
– beton prategang yang terdiri dari beton biasa
dan kabel prategang
Catatan : Struktur
beton bertulang (reinforced concrete) tidak ter-masuk kedalam struktur komposit
![]() |
![]() |
||
(a)
Balok Komposit (b) Balok Komposit dengan voute
![]() |
![]() |
||
(c)
Lantai Komposit (d) Kolom Komposit
Gambar 1.1 Struktur Komposit antara Baja dengan Beton
![]() |
![]() |
Gambar 1.2 Struktur Komposit pada Beton Prategang (Prestress)
1.2 BALOK
KOMPOSIT (Composite Beam)
Pada umumnya, balok komposit yang digunakan pada
konstruksi gedung dan jembatan adalah berupa baja dengan lantai beton dan
lantai jem-batan. Antara baja dan beton pada balok komposit diikat dengan suatu
penghubung (shear connectors), sehingga beton dan baja dapat bekerja
bersama-sama membentuk suatu kesatuan seperti Balok T.
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
Gambar 1.3 Balok Komposit (Composite Beam)
1.3 LEBAR
EFEKTIF (Effective Width)
Lebar lantai beton yang diperhitungkan
dalam perencanaan balok kom-posit adalah lebar lantai beton yang dapat
bekerjasama dengan baja atau disebut juga dengan lebar efektif efektif (effective
width, b)
![]() |
Gambar 1.4
LebarEfektif Balok Komposit
Untuk keperluan perencanaan (design),
menurut AISC (untuk gedung) dan AASHTO (untuk jembatan), besarnya
lebar efektif (b) adalah nilai terkecil dari
beberapa syarat berikut :
AISC (untuk gedung)
Balok
Tengah Balok Pinggir
– b = ¼ ´ bentang balok – b = 1/12
´ bentang balok
– b =
jarak balok – b
= ½ (s + bs)
– b = 16d
+ bs – b
= 6d + bs
AASHTO (untuk jembatan)
Balok
Tengah Balok Pinggir
– b = ¼ ´ bentang balok – b = 1/12
´ bentang balok
– b =
jarak balok – b
= ½ (s + bs)
– b = 12d – b
= 6d
Apabila pada balok pinggir terdapat kantilever dengan panjang c,
maka lebar efektinya ditambah c, dengan syarat tidak boleh melebihi
jarak antar balok (s).
Jadi, lebar efektif untuk balok
pinggir yang mempunyai kantilever :
b + c
£ s
![]() |
![]() |
||||||
Keterangan :
b = lebar efektif lantai beton
bs = lebar sayap (flens, flange) balok baja
d = tebal lantai beton
s = jarak antar balok baja
c = panjang kantilever pada balok tepi
L = panjang bentang balok
Gambar 1.5 LebarEfektif (b) untuk Balok Tengah
dan Balok Pinggir
![]() |
|||||||
Gambar 1.6 Lebar Efektif pada suatu Denah Pelat Lantai
1.4 PERENCANAAN ELASTIS (Elastic Design)
Untuk perencanaan secara elastis, besaran-besaran (parameter)
penam-pang komposit dihitung dengan menggunakan Metoda Luas Pengganti (Transformed
Area Method). Pada metoda ini luas beton diganti dengan luas baja ekivalen,
yaitu dengan membagi lebar efektif beton dengan suatu angka ekivalen n.
![]() |
|||||||||
=
Gambar 1.8 Metoda Luas Pengganti (Transformed Area Method)
Besarnya nilai n atau
disebut juga dengan moulus rasio (modulus ratio), merupakan perbandingan
antara modulus elastisitas baja dengan modu-lus elastisitas beton.
n =
(1.1)
dimana :
n = modulus rasio
Es = modulus elastisitas baja = 200000
MPa
Ec = modulus
elastisitas beton
Ec = 4700
MPa (1.2)
fc’ = kuat tekan beton (MPa)
Nilai modulus rasio (n)
untuk beberapa nilai kuat tekan beton, dapat di-lihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Mudulus Rasio (n) untuk beberapa Mutu Beton
Kuat Tekan Beton (fc’)
|
Modulus Rasio |
|
(MPa)
|
(kg/cm2)
|
(n)
|
12,5
|
125
|
12
|
15,0
|
150
|
11
|
17,5
|
175
|
10
|
20,0
|
200
|
10
|
22,5
|
225
|
9
|
25,0
|
250
|
9
|
30,0
|
300
|
8
|
35,0
|
350
|
7
|
40,0
|
400
|
7
|
Dalam menganalisis
penampang komposit secara elastis dengan meng-gunakan metoda luas pengganti (transformed
area method) ini, diberikan beberapa batasan yaitu :
1.
Penghubung geser (shear connector) yang digunakan sebagai
pengikat antara baja dengan beton cukup kaku, sehingga tidak ter-jadi slip
(pergeseran) antara baja dengan beton. Atau dapat juga dikatakan bahwa slip
yang terjadi sangat kecil, sehingga dapat di-abaikan.
2.
Material baja dan beton yang digunakan masih dalam kondisi elastis
linear.
3. Tegangan tarik yang terjadi
pada beton tidak diperhitungkan atau dapat diabaikan.
1.4.1 Lokasi Garis Netral
Garis netral merupakan lokasi dimana
tegangan yang terjadi pada penampang komposit sama dengan nol. Lokasi garis
netral pada penam-pang komposit ini dapat berada di daerah baja atau di daerah
beton
a). Garis Netral berada di daerah Baja
Gambar 1.8 Lokasi Garis Netral Komposit berada di Baja
Statis momen terhadap serat atas beton, memberikan :
yc
=
(1.3)
sehingga diperoleh :
ys = (d + h) – yc (1.4)
dc = yc – d/2 (1.5)
ds = ys – h/2 (1.6)
dimana :
Ac = luas penampang beton ekivalen ; Ac = d
´ (b/n)
As = luas penampang baja
dc = jarak garis netral beton dengan garis netral
komposit
ds = jarak garis netral baja dengan garis netral
komposit
yc = jarak garis netral terhadap serat atas beton
ys = jarak garis netral terhadap serat bawah baja
h = tinggi balok baja
b). Garis
Netral berada di daerah Beton
Gambar 1.9 Lokasi Garis Netral Komposit berada di Beton
1/. Tanpa
Tumpuan Sementara (unshored)
Tahap I
Setelah beton dicor sampai beton mengeras,
semua beban-beban mati yang bekerja (wD), yaitu berat sendiri
beton (wc) dan berat sendiri baja (ws),
sepenuhnya dipikul oleh balok baja.
wD =
|
|
= wc + ws
L = panjang
bentang
balok
Momen maksimum (M1) akibat beban mati wD
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok baja adalah :
M1 = 1/8 wD L2 (1.17)
Tahap II
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup wL. Beban
hidup wL adalah
beban-beban yang bekerja pada balok komposit setelah beton mengeras, seperti :
– beban
hidup lantai gedung (berdasarkan fungsi bangunan)
– beban
hidup lantai kendaraan pada jembatan
– partisi
dan dinding bata (pada gedung)
– trotoar
dan tiang sandaran (pada jembatan)
– lapisan
aus, seperti aspal dan tegel
Beban hidup wL yang
bekerja ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Momen maksimum (M2) akibat beban hidup wL
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wL L2 (1.18)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang balok, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Momen maksimum (M2) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P terjadi di tengah bentang balok (L/2),
dimana besarnya momen maksimum yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.19)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.20)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’ (1.21)
Catatan : Beton dianggap sudah mengeras apabila
kekuatannya telah mencapai 75% fc’. Ini bisa dicapai setelah beton
ber-umur ± 1 minggu.
2/. Dengan
Tumpuan Sementara (shored)
a). Full Shoring (tumpuan sementara sepanjang
bentang)
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi tumpuan
sementara (perancah) di sepanjang bentang balok. Setelah itu baru beton di cor.
![]() |
|||
wD = beban
mati
= wc + ws
Karena tumpuan sementara diberikan di sepanjang balok, maka beban mati wD
yang bekerja sepenuhnya dipikul oleh tumpuan sementara. Berarti tidak ada momen
yang bekerja pada balok komposit, atau :
M1 = 0 (1.22)
Tahap II
Setelah beton mengeras, tumpuan sementara
diambil.sehingga se-mua beban mati yang bekerja (wD)
sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wD = beban
mati
= wc + ws
Momen maksimum (M2) akibat beban mati wD
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wD L2 (1.23)
Tahap III
Setelah
beton mengeras, bekerja beban hidup wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Momen maksimum (M3) akibat beban hidup wL
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M3 = 1/8 wL L2 (1.24)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang balok, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Momen maksimum (M3) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P terjadi di tengah bentang balok (L/2),
dimana besarnya momen maksimum yang dipikul oleh balok komposit :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.25)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
![]() |
fs1 = 0
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = 0 +
£
(1.26)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.27)
b). Partial Shoring (dengan satu tumpuan sementara)
Tumpuan sementara dapat dikategorikan
Partial Shoring, jika tum-puan sementara yang digunakan berjumlah satu atau dua.
Apabila tumupuan sementara yang digunakan lebih dari dua, maka dapat di-anggap
sebagai Full Shoring.
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi satu
tumpuan sementara (pe-rancah) di tengah bentang balok. Setelah itu baru beton
di cor.
Karena beton belum mengeras, maka semua
beban mati wD yang bekerja sepenuhnya dipikul oleh baja.
![]() |
|||
wD = beban
mati
= wc + ws
Besarnya momen di tengah bentang (M1) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban mati wD yang bekerja adalah
:
M1 = 1/8 wD (L/2)2 (momen negatif)
(1.28)
dan besarnya reaksi pada tumpuan sementara (R1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
R1 = 2 [ ½ wD (L/2)
+ M1/(L/2)
]
= 5/4 wD (L/2) (1.29)
Tahap II
Setelah beton mengeras, tumpuan sementara
diambil. Ini sama artinya dengan memberikan beban sebesar R1
pada balok kom-posit. Beban R1 ini sepenuhnya dipikul oleh
balok komposit.
Besarnya momen di tengah bentang (M2) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban R1 yang bekerja adalah :
M2 = ¼ R1 L (1.30)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Besarnya momen di tengah bentang (M3) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban hidup wL yang bekerja adalah
:
M3 = 1/8 wL L2 (1.31)
Jika pada balok komposit bekerja beban
hidup yang berupa beban terpusat P di tengah bentang, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Besarnya momen (M3) di tengah bentang yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban hidup merata wL dan beban
hidup terpusat P yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.32)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = –
+
£
(1.33)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.34)
c). Partial Shoring (dengan dua tumpuan sementara)
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi dua tumpuan sementara, yaitu tumpuan D
dan tumpuan E. Setelah itu baru beton di cor. Karena beton belum
mengeras, maka semua beban mati wD yang bekerja sepenuhnya
dipikul oleh baja.
![]() |
|||
Besarnya momen yang terjadi pada tumpuan D
dan tumpuan E (MD1 dan ME1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
MD1 = 1/10
wD (L/3)2 (momen negatif)
ME1 = 1/10 wD (L/3)2 (momen negatif)................ ..... (1.35)
dan besarnya reaksi yang terjadi pada tumpuan sementara yaitu pada
tumpuan D (RD) dan pada tumpuan E
(RE) akibat beban mati wD yang bekerja
adalah :
RD = 11/10
wD (L/3)
RE = 11/10
wD (L/3) (1.36)
sehingga besarnya momen yang terjadi di tengah bentang (M1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
M1 = 1/40
wD (L/3)2 (momen positif)
(1.37)
Tahap II
Setelah beton mengeras, kedua tumpuan
sementara diambil. Ini sama artinya dengan memberikan beban sebesar RD
dan RE pada balok komposit, dimana beban RD
dan RE ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
![]() |
||||
Besarnya momen di titik D (MD2) dan
titik E (ME2) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban RD dan RE yang
bekerja :
MD2 = 11/10 wD (L/3)2 (momen positif)
ME2 = 11/10 wD (L/3)2 (momen positif)............... ..... (1.38)
dan besarnya momen di tengah bentang (M2) yang
dipikul oleh balok komposit akibat beban RD dan RE
yang bekerja adalah :
M2 = 11/10
wD (L/3)2 (momen positif)............... ..... (1.39)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
![]() |
||||
Besarnya momen yang terjadi di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban hidup wL yang bekerja adalah :
MD3 = 1/9 wL L2 (momen positif)
ME3 = 1/9 wL L2 (momen positif)
(1.40)
dan besarnya momen yang terjadi di tengah
bentang balok (M3) yang dipikul oleh balok komposit akibat
beban hidup wL yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2 (1.41)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang, maka :
![]() |
||||
Besarnya momen di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban hidup merata wL dan beban hidup tepusat
P yang bekerja adalah :
MD3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (momen positif)
ME3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (momen positif)........... ..... (1.42)
dan besarnya momen di tengah bentang (M3)
yang dipikul oleh balok komposit akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.43)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
Tegangan-tegangan
pada penampang komposit, ditinjau terhadap tiga titik yang yang paling
menentukan, yaitu di titik D dan E dan titik di
tengah bentang balok
Tegangan total pada penampang komposit di
titik D dan E
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = –
+
£
... (1.44)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.45)
Tegangan total pada penampang komposit di
tengah bentang (titik C)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.46)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1. 47)
3/. Pengecoran
Bertahap
Tahap I
Mula-mula pengecoran beton dilakukan pada
bagian tengah balok (simetris), sepanjang ± ⅓ bentang balok. Beban dari beton (wc)
dan baja (ws) sepenuhnya dipikul oleh balok baja.
![]() |
||||
Momen yang terjadi pada titik D (MD1) dan
titik E (ME1) akibat beban dari beton (wc)
dan beban dari baja (ws), sepenuhnya di-pikul oleh balok
baja, dimana :
MD1 = ME1 = ½
(wc + 2 ws) (L/3)2 (1.48)
dan momen yang terjadi di tengah bentang (M1) akibat
beban dari beton (wc) dan beban dari baja (ws),
sepenuhnya dipikul oleh balok baja, dimana :
M1 = ⅛ (5
wc + 9 ws) (L/3)2 (1.49)
Tahap II
Setelah beton mengeras, dilakukan pengecoran pada kedua bagian beton
pada daerah tumpuan.
![]() |
||||
Momen yang terjadi pada titik D (MD2) dan
titik E (ME2) akibat berat sendiri beton (wc)
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok baja, dimana :
MD2 = ME2 = ½ wc (L/3)2 (1.50)
dan momen yang terjadi di tengah bentang (M1) akibat
berat sen-diri beton (wc), sepenuhnya dipikul oleh balok
komposit, dimana :
M2 = ⅛ wc (L/3)2 (1.51)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
Momen yang terjadi di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) akibat beban hidup wL
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
MD3 = ME3 =
1/9 wL L2 (1.52)
dan momen yang terjadi di tengah bentang
balok (M3) akibat beban hidup wL yang
bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
M3 = 1/8 wL L2 (1.53)
Jika pada balok komposit bekerja beban
hidup yang berupa beban terpusat P di tengah bentang, maka :
![]() |
||||
Momen di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup tepusat P yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, adalah :
MD3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL
ME3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (1.54)
dan momen di tengah bentang (M3)
akibat beban hidup merata wL dan beban hidup terpusat P
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.55)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
Tegangan-tegangan pada penampang komposit,
ditinjau terhadap tiga titik yang yang paling menentukan, yaitu di titik D
dan E dan titik di tengah bentang balok.
Tegangan total pada penampang komposit di titik D dan E
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
... (1.56)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’ (1.57)
Tegangan
total pada penampang komposit di tengah bentang (titik C)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.58)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1. 59)
Struktur komposit
merupakan suatu struktur yang terdiri dari dua elemen struktur dengan bahan
material yang berbeda dan bekerja bersama-sama membentuk suatu kesatuan, dimana
masing-masing bahan/ material tersebut mempunyai kekuatan sendiri-sendiri.
Perpaduan antara material beton dan baja tulangan akan membentuk material
komposit yang ekonomis serta efisien lewat hasil kerjasama yang tercipta
melalui kekuatan lekat pada interface kedua material tersebut. Pemanasan dengan
temperatur yang bervariasi akan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku
material komposit tersebut, khususnya menyangkut kinerja kekuatan lekatnya
akibat perubahan mikrostruktur pada material beton dan material baja tulangan.
Dari hasil uji tekan uniaksial diperoleh nilai kuat tekan beton umur tujuh hari
yang bila dipanaskan dengan temperatur 200 oC, 500 oC dan
800 oC akan mengalami penurunan yang bervariasi antara enam hingga
100%, sedangkan penurunan kuat tekan beton pada umur 28 hari berkisar antara
sepuluh hingga 90%. Pada tingkat pemanasan dengan temperatur 200 oC,
penurunan kekuatan lekat antara baja tulangan dan beton umur 28 hari adalah
sekitar 30%, serta untuk pemanasan dengan temperatur yang lebih besar atau sama
dengan 500 oC akan terjadi penurunan sebesar 40% hingga 77%.
Penurunan kuat tekan beton dan penurunan kekuatan lekat beton dengan baja
tulangan akibat pemanasan dipresentasikan oleh kurva tidak linier serta
menunjukkan adanya korelasi positif antara kedua karakteristik tersebut.
Contoh
struktur komposit :
·
baja dengan beton
·
kayu dengan beton
·
beton biasa dengan beton prategang
Struktur
komposit dibentuk olehelemen baja dan beton, dengan memanfaatkan perilaku
interaktif yang terjadi antara baja dengan beton, serta memobilisasikan
kemampuan optimal dari masing-masing bahan dalam memikul beban.
BALOK KOMPOSIT

gambar 1
Balok
baja yang menumpu pelat beton bertulang
Pada gambar 1 diatas merupakan balok komposit dengan peghubung geser. Pada
keadaan ini, penyaluran gaya geser melalui mekanisme interlocking antara pelat
beton dan peghubung geser.

gambar 2
Balok
baja yang diselubungi beton
Pada gambar 2
merupakan balok baja yang deselubungi beton, dengan penyaluran gaya geser
mealului :
·
friksi dan lekatan disepanjang sisi atas
profil baja dan pelat beton
·
tahanan geser pada bidang antara pelat
beton dan bagian beton yang menyelubungi profil baja.
Pada umumnya, struktur komposit yang digunakan pada konstruksi gedung dan
jembatan adalah berupa balok komposit yang merupakan gabungan antara balok baja
dengan lantai yang dicor ditempat (cast in situ) atau pra cetak (precast).
Antara baja dan beton pada balok komposit diikat dengan suatu penghubung (shear
connector), sehingga beton dan baja dapat bekerja bersama-sama membentuk suatu
kesatuan seperti balok T.
Dari hasil penelitian bisa diambil kesimpulan, perilaku balok terhadap
beban jangka pendek.
- Kapasitas lentur batas
Dari hasil percobaan dan teori memberi hasil yang
sangat memadai sehingga teori lentur yang sudah ada nampaknya cukup akurat
dipakai memprediksi kekuatan yang ada.
- Kapasitas lentur saat retak
Untuk memprediksi kemampuan retak seyogyanya
memasukkan faktor susut balok-balok. Keadaan initial tegangan tarik beton
diperhitungkan secara teliti apabila faktor retak menjadi pertimbangan.
- Lebar balok
Penggunaan beton mutu tinggi pada bagian tarik jelas
sekali mengurangi lebar retak yang terjadi, sehingga untuk struktur di daerah
maritim sangat dibantu dari segi umur sebagaimana yang diharapkan.
KOLOM KOMPOSIT

gambar 3
kolom
baja yang diisi beton bertulang
Pada kolom
komposit, baja berfungsi sebagi casing,lalu dilakukan penulangan, dan setelah
itu baru dilakukan pengecoran beton.

gambar
5.
Kolom
baja yang diselubungi beton
PELAT KOMPOSIT

gambar 6
Pelat
Dek Baja yang menahan pelat beton bertulang
Pada struktur pelat komposit, akan terdapat pemindahan gaya geser (shear transfer) yang disebabkan oleh bond dan friction pada permukaan baja dan pelat lantai beton (concrete slab). Gaya geser tersebut
tidak dapat dipikul tersendiri (oleh gelagar baja saja atau oleh pelat beton
saja), karena akan mengakibatkan lepasnya pelat lantai dari balok. Oleh karena
itu, dipasang suatu penghubung yang disebuat dengan penghubung geser (shear
connector).

gambar7
Non composite beam
Composite beam
Contoh perhitungan kuat lentur
rencana balok komposit

a. balok interior :
bE < L/4
bE < b0 (for
equal beam spacing)
b. balok exterior :
bE < L/8 + btepi
bE < b0 /2 +
btepi
dengan :
L : jarak bentang balok
bo : jarak antar balok
btepi :
jarak jarak
dari balok tepi ke sisi ujung pelat yang ditumpu balok tepi
![]() |
![]() |
||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
|
|||||||||||||
BALOK KOMPOSIT
1.1 PENDAHULUAN
(Introduction)
Struktur
komposit merupakan suatu struktur yang terdiri dari dua elemen struktur dengan
bahan/material yang berbeda dan bekerja bersama-sama membentuk suatu kesatuan,
dimana masing-masing bahan/material ter-sebut mempunyai kekuatan
sendiri-sendiri.
Contoh :
– baja dengan beton
– kayu dengan beton
– beton prategang yang terdiri dari beton biasa
dan kabel prategang
Catatan : Struktur
beton bertulang (reinforced concrete) tidak ter-masuk kedalam struktur komposit
![]() |
![]() |
||
(a)
Balok Komposit (b) Balok Komposit dengan voute
![]() |
![]() |
||
(c)
Lantai Komposit (d) Kolom Komposit
Gambar 1.1 Struktur Komposit antara Baja dengan Beton
![]() |
![]() |
Gambar 1.2 Struktur Komposit pada Beton Prategang (Prestress)
1.2 BALOK
KOMPOSIT (Composite Beam)
Pada umumnya, balok komposit yang digunakan pada
konstruksi gedung dan jembatan adalah berupa baja dengan lantai beton dan
lantai jem-batan. Antara baja dan beton pada balok komposit diikat dengan suatu
penghubung (shear connectors), sehingga beton dan baja dapat bekerja
bersama-sama membentuk suatu kesatuan seperti Balok T.
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
Gambar 1.3 Balok Komposit (Composite Beam)
1.3 LEBAR
EFEKTIF (Effective Width)
Lebar lantai beton yang diperhitungkan
dalam perencanaan balok kom-posit adalah lebar lantai beton yang dapat
bekerjasama dengan baja atau disebut juga dengan lebar efektif efektif (effective
width, b)
![]() |
Gambar 1.4
LebarEfektif Balok Komposit
Untuk keperluan perencanaan (design),
menurut AISC (untuk gedung) dan AASHTO (untuk jembatan), besarnya
lebar efektif (b) adalah nilai terkecil dari
beberapa syarat berikut :
AISC (untuk gedung)
Balok
Tengah Balok Pinggir
– b = ¼ ´ bentang balok – b = 1/12
´ bentang balok
– b =
jarak balok – b
= ½ (s + bs)
– b = 16d
+ bs – b
= 6d + bs
AASHTO (untuk jembatan)
Balok
Tengah Balok Pinggir
– b = ¼ ´ bentang balok – b = 1/12
´ bentang balok
– b =
jarak balok – b
= ½ (s + bs)
– b = 12d – b
= 6d
Apabila pada balok pinggir terdapat kantilever dengan panjang c,
maka lebar efektinya ditambah c, dengan syarat tidak boleh melebihi
jarak antar balok (s).
Jadi, lebar efektif untuk balok
pinggir yang mempunyai kantilever :
b + c
£ s
![]() |
![]() |
||||||
Keterangan :
b = lebar efektif lantai beton
bs = lebar sayap (flens, flange) balok baja
d = tebal lantai beton
s = jarak antar balok baja
c = panjang kantilever pada balok tepi
L = panjang bentang balok
Gambar 1.5 LebarEfektif (b) untuk Balok Tengah
dan Balok Pinggir
![]() |
|||||||
Gambar 1.6 Lebar Efektif pada suatu Denah Pelat Lantai
1.4 PERENCANAAN ELASTIS (Elastic Design)
Untuk perencanaan secara elastis, besaran-besaran (parameter)
penam-pang komposit dihitung dengan menggunakan Metoda Luas Pengganti (Transformed
Area Method). Pada metoda ini luas beton diganti dengan luas baja ekivalen,
yaitu dengan membagi lebar efektif beton dengan suatu angka ekivalen n.
![]() |
|||||||||
=
Gambar 1.8 Metoda Luas Pengganti (Transformed Area Method)
Besarnya nilai n atau
disebut juga dengan moulus rasio (modulus ratio), merupakan perbandingan
antara modulus elastisitas baja dengan modu-lus elastisitas beton.
n =
(1.1)
dimana :
n = modulus rasio
Es = modulus elastisitas baja = 200000
MPa
Ec = modulus
elastisitas beton
Ec = 4700
MPa (1.2)
fc’ = kuat tekan beton (MPa)
Nilai modulus rasio (n)
untuk beberapa nilai kuat tekan beton, dapat di-lihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Mudulus Rasio (n) untuk beberapa Mutu Beton
Kuat Tekan Beton (fc’)
|
Modulus Rasio |
|
(MPa)
|
(kg/cm2)
|
(n)
|
12,5
|
125
|
12
|
15,0
|
150
|
11
|
17,5
|
175
|
10
|
20,0
|
200
|
10
|
22,5
|
225
|
9
|
25,0
|
250
|
9
|
30,0
|
300
|
8
|
35,0
|
350
|
7
|
40,0
|
400
|
7
|
Dalam menganalisis
penampang komposit secara elastis dengan meng-gunakan metoda luas pengganti (transformed
area method) ini, diberikan beberapa batasan yaitu :
1.
Penghubung geser (shear connector) yang digunakan sebagai
pengikat antara baja dengan beton cukup kaku, sehingga tidak ter-jadi slip
(pergeseran) antara baja dengan beton. Atau dapat juga dikatakan bahwa slip
yang terjadi sangat kecil, sehingga dapat di-abaikan.
2.
Material baja dan beton yang digunakan masih dalam kondisi elastis
linear.
3. Tegangan tarik yang terjadi
pada beton tidak diperhitungkan atau dapat diabaikan.
1.4.1 Lokasi Garis Netral
Garis netral merupakan lokasi dimana
tegangan yang terjadi pada penampang komposit sama dengan nol. Lokasi garis
netral pada penam-pang komposit ini dapat berada di daerah baja atau di daerah
beton
a). Garis Netral berada di daerah Baja
Gambar 1.8 Lokasi Garis Netral Komposit berada di Baja
Statis momen terhadap serat atas beton, memberikan :
yc
=
(1.3)
sehingga diperoleh :
ys = (d + h) – yc (1.4)
dc = yc – d/2 (1.5)
ds = ys – h/2 (1.6)
dimana :
Ac = luas penampang beton ekivalen ; Ac = d
´ (b/n)
As = luas penampang baja
dc = jarak garis netral beton dengan garis netral
komposit
ds = jarak garis netral baja dengan garis netral
komposit
yc = jarak garis netral terhadap serat atas beton
ys = jarak garis netral terhadap serat bawah baja
h = tinggi balok baja
b). Garis
Netral berada di daerah Beton
Gambar 1.9 Lokasi Garis Netral Komposit berada di Beton
1/. Tanpa
Tumpuan Sementara (unshored)
Tahap I
Setelah beton dicor sampai beton mengeras,
semua beban-beban mati yang bekerja (wD), yaitu berat sendiri
beton (wc) dan berat sendiri baja (ws),
sepenuhnya dipikul oleh balok baja.
wD =
|
|
= wc + ws
L = panjang
bentang
balok
Momen maksimum (M1) akibat beban mati wD
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok baja adalah :
M1 = 1/8 wD L2 (1.17)
Tahap II
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup wL. Beban
hidup wL adalah
beban-beban yang bekerja pada balok komposit setelah beton mengeras, seperti :
– beban
hidup lantai gedung (berdasarkan fungsi bangunan)
– beban
hidup lantai kendaraan pada jembatan
– partisi
dan dinding bata (pada gedung)
– trotoar
dan tiang sandaran (pada jembatan)
– lapisan
aus, seperti aspal dan tegel
Beban hidup wL yang
bekerja ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Momen maksimum (M2) akibat beban hidup wL
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wL L2 (1.18)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang balok, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Momen maksimum (M2) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P terjadi di tengah bentang balok (L/2),
dimana besarnya momen maksimum yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.19)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.20)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’ (1.21)
Catatan : Beton dianggap sudah mengeras apabila
kekuatannya telah mencapai 75% fc’. Ini bisa dicapai setelah beton
ber-umur ± 1 minggu.
2/. Dengan
Tumpuan Sementara (shored)
a). Full Shoring (tumpuan sementara sepanjang
bentang)
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi tumpuan
sementara (perancah) di sepanjang bentang balok. Setelah itu baru beton di cor.
![]() |
|||
wD = beban
mati
= wc + ws
Karena tumpuan sementara diberikan di sepanjang balok, maka beban mati wD
yang bekerja sepenuhnya dipikul oleh tumpuan sementara. Berarti tidak ada momen
yang bekerja pada balok komposit, atau :
M1 = 0 (1.22)
Tahap II
Setelah beton mengeras, tumpuan sementara
diambil.sehingga se-mua beban mati yang bekerja (wD)
sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wD = beban
mati
= wc + ws
Momen maksimum (M2) akibat beban mati wD
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M2 = 1/8 wD L2 (1.23)
Tahap III
Setelah
beton mengeras, bekerja beban hidup wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Momen maksimum (M3) akibat beban hidup wL
terjadi di tengah bentang balok (L/2), dimana besarnya momen maksimum
yang dipikul oleh balok komposit adalah :
M3 = 1/8 wL L2 (1.24)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang balok, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Momen maksimum (M3) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P terjadi di tengah bentang balok (L/2),
dimana besarnya momen maksimum yang dipikul oleh balok komposit :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.25)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
![]() |
fs1 = 0
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = 0 +
£
(1.26)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.27)
b). Partial Shoring (dengan satu tumpuan sementara)
Tumpuan sementara dapat dikategorikan
Partial Shoring, jika tum-puan sementara yang digunakan berjumlah satu atau dua.
Apabila tumupuan sementara yang digunakan lebih dari dua, maka dapat di-anggap
sebagai Full Shoring.
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi satu
tumpuan sementara (pe-rancah) di tengah bentang balok. Setelah itu baru beton
di cor.
Karena beton belum mengeras, maka semua
beban mati wD yang bekerja sepenuhnya dipikul oleh baja.
![]() |
|||
wD = beban
mati
= wc + ws
Besarnya momen di tengah bentang (M1) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban mati wD yang bekerja adalah
:
M1 = 1/8 wD (L/2)2 (momen negatif)
(1.28)
dan besarnya reaksi pada tumpuan sementara (R1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
R1 = 2 [ ½ wD (L/2)
+ M1/(L/2)
]
= 5/4 wD (L/2) (1.29)
Tahap II
Setelah beton mengeras, tumpuan sementara
diambil. Ini sama artinya dengan memberikan beban sebesar R1
pada balok kom-posit. Beban R1 ini sepenuhnya dipikul oleh
balok komposit.
Besarnya momen di tengah bentang (M2) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban R1 yang bekerja adalah :
M2 = ¼ R1 L (1.30)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
wL = beban
hidup
Besarnya momen di tengah bentang (M3) yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban hidup wL yang bekerja adalah
:
M3 = 1/8 wL L2 (1.31)
Jika pada balok komposit bekerja beban
hidup yang berupa beban terpusat P di tengah bentang, maka :
wL = beban
hidup merata
|
|
|
P = beban
hidup berupa
beban
terpusat
Besarnya momen (M3) di tengah bentang yang dipikul
oleh balok komposit akibat beban hidup merata wL dan beban
hidup terpusat P yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.32)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada penampang komposit :
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = –
+
£
(1.33)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.34)
c). Partial Shoring (dengan dua tumpuan sementara)
Tahap I
Sebelum beton dicor, balok diberi dua tumpuan sementara, yaitu tumpuan D
dan tumpuan E. Setelah itu baru beton di cor. Karena beton belum
mengeras, maka semua beban mati wD yang bekerja sepenuhnya
dipikul oleh baja.
![]() |
|||
Besarnya momen yang terjadi pada tumpuan D
dan tumpuan E (MD1 dan ME1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
MD1 = 1/10
wD (L/3)2 (momen negatif)
ME1 = 1/10 wD (L/3)2 (momen negatif)................ ..... (1.35)
dan besarnya reaksi yang terjadi pada tumpuan sementara yaitu pada
tumpuan D (RD) dan pada tumpuan E
(RE) akibat beban mati wD yang bekerja
adalah :
RD = 11/10
wD (L/3)
RE = 11/10
wD (L/3) (1.36)
sehingga besarnya momen yang terjadi di tengah bentang (M1)
akibat beban mati wD yang bekerja adalah :
M1 = 1/40
wD (L/3)2 (momen positif)
(1.37)
Tahap II
Setelah beton mengeras, kedua tumpuan
sementara diambil. Ini sama artinya dengan memberikan beban sebesar RD
dan RE pada balok komposit, dimana beban RD
dan RE ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
![]() |
||||
Besarnya momen di titik D (MD2) dan
titik E (ME2) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban RD dan RE yang
bekerja :
MD2 = 11/10 wD (L/3)2 (momen positif)
ME2 = 11/10 wD (L/3)2 (momen positif)............... ..... (1.38)
dan besarnya momen di tengah bentang (M2) yang
dipikul oleh balok komposit akibat beban RD dan RE
yang bekerja adalah :
M2 = 11/10
wD (L/3)2 (momen positif)............... ..... (1.39)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
![]() |
||||
Besarnya momen yang terjadi di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban hidup wL yang bekerja adalah :
MD3 = 1/9 wL L2 (momen positif)
ME3 = 1/9 wL L2 (momen positif)
(1.40)
dan besarnya momen yang terjadi di tengah
bentang balok (M3) yang dipikul oleh balok komposit akibat
beban hidup wL yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2 (1.41)
Jika pada balok komposit bekerja beban hidup yang berupa beban terpusat
P di tengah bentang, maka :
![]() |
||||
Besarnya momen di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) yang dipikul oleh balok
komposit akibat beban hidup merata wL dan beban hidup tepusat
P yang bekerja adalah :
MD3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (momen positif)
ME3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (momen positif)........... ..... (1.42)
dan besarnya momen di tengah bentang (M3)
yang dipikul oleh balok komposit akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup terpusat P yang bekerja adalah :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.43)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
Tegangan-tegangan
pada penampang komposit, ditinjau terhadap tiga titik yang yang paling
menentukan, yaitu di titik D dan E dan titik di
tengah bentang balok
Tegangan total pada penampang komposit di
titik D dan E
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs = –
+
£
... (1.44)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1.45)
Tegangan total pada penampang komposit di
tengah bentang (titik C)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.46)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1. 47)
3/. Pengecoran
Bertahap
Tahap I
Mula-mula pengecoran beton dilakukan pada
bagian tengah balok (simetris), sepanjang ± ⅓ bentang balok. Beban dari beton (wc)
dan baja (ws) sepenuhnya dipikul oleh balok baja.
![]() |
||||
Momen yang terjadi pada titik D (MD1) dan
titik E (ME1) akibat beban dari beton (wc)
dan beban dari baja (ws), sepenuhnya di-pikul oleh balok
baja, dimana :
MD1 = ME1 = ½
(wc + 2 ws) (L/3)2 (1.48)
dan momen yang terjadi di tengah bentang (M1) akibat
beban dari beton (wc) dan beban dari baja (ws),
sepenuhnya dipikul oleh balok baja, dimana :
M1 = ⅛ (5
wc + 9 ws) (L/3)2 (1.49)
Tahap II
Setelah beton mengeras, dilakukan pengecoran pada kedua bagian beton
pada daerah tumpuan.
![]() |
||||
Momen yang terjadi pada titik D (MD2) dan
titik E (ME2) akibat berat sendiri beton (wc)
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok baja, dimana :
MD2 = ME2 = ½ wc (L/3)2 (1.50)
dan momen yang terjadi di tengah bentang (M1) akibat
berat sen-diri beton (wc), sepenuhnya dipikul oleh balok
komposit, dimana :
M2 = ⅛ wc (L/3)2 (1.51)
Tahap III
Setelah beton mengeras, bekerja beban hidup
wL. Beban hidup wL ini sepenuhnya dipikul oleh balok komposit.
Momen yang terjadi di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) akibat beban hidup wL
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
MD3 = ME3 =
1/9 wL L2 (1.52)
dan momen yang terjadi di tengah bentang
balok (M3) akibat beban hidup wL yang
bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
M3 = 1/8 wL L2 (1.53)
Jika pada balok komposit bekerja beban
hidup yang berupa beban terpusat P di tengah bentang, maka :
![]() |
||||
Momen di titik D (MD3) dan
titik E (ME3) akibat beban hidup merata wL
dan beban hidup tepusat P yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, adalah :
MD3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL
ME3 = 1/9 wL L2
+ 1/6 PL (1.54)
dan momen di tengah bentang (M3)
akibat beban hidup merata wL dan beban hidup terpusat P
yang bekerja, sepenuhnya dipikul oleh balok komposit, dimana :
M3 = 1/8 wL L2
+ ¼ PL (1.55)
Tegangan-tegangan pada Penampang Komposit
Tegangan-tegangan pada penampang komposit,
ditinjau terhadap tiga titik yang yang paling menentukan, yaitu di titik D
dan E dan titik di tengah bentang balok.
Tegangan total pada penampang komposit di titik D dan E
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
... (1.56)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’ (1.57)
Tegangan
total pada penampang komposit di tengah bentang (titik C)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
fs2 = 
fc = 
Tegangan total pada serat bawah baja
fs =
+
£
(1.58)
Tegangan total pada serat atas beton
fc =
£ 0,45 fc’
(1. 59)
SUMBER : https://www.scribd.com/doc/47350878/Struktur-Komposit
SUMBER : https://www.scribd.com/doc/47350878/Struktur-Komposit





























Komentar
Posting Komentar